Duduk Nyaman

Yang kutakutkan hampir terjadi.

Kamu tahu, setiap saat kamu akan singgah di kepala. Berlama-lama di sana, seperti tak ingin beranjak. Padahal, segala pikiran yang lain sudah menegur dan minta bertukar tempat denganmu. Mereka berusaha untuk mendepakmu pergi. Ingin duduk di sofa tempatmu biasa duduk dan berbaring.

Biasanya mereka akan mengalah dan membiarkanmu tetap berada disana. Walau kalkulus dan fisika rasanya sangat gigih berusaha mengusirmu, tapi pada akhirnya mereka juga menyerah dan rela berbagi sofa denganmu.

Tapi akhir-akhir ini tampaknya kau lebih mudah disingkirkan. Aku tak tahu kenapa, tapi tampaknya wisuda genap, Ares, dan ribuan angsa origami mampu berbicara padamu tentang pentingnya mereka dan membuatmu mengalah lalu beranjak pergi sementara.

Awalnya kupikir hanya itu saja alasannya, namun setelah kupikir-pikir lagi sepertinya bukan hanya itu. Mungkin ingatanku mulai kurang mempercayai sofa nyamanku padamu. Kamu mulai menggigit.

Mungkin juga ingatanku mengira sudah ada sofa lain yang lebih empuk untukmu entah dimana, aku juga tidak mau tahu. Nanti pikiran dan hatiku terbakar, katanya.

Rasanya pikiranku mulai siap kehilanganmu tapi ingatanku selalu tahu aku tidak siap untuk itu, dan ia mulai membiarkanmu duduk lagi di sofa itu.

Kali ini ingatanku mungkin sudah tak peduli lagi apakah kau akan menggigit atau tidak, ataupun apakah kamu akan bolak-balik pindah sofa di sini atau di sana.

Yang penting kamu ada dan pernah ada disana, aku sudah cukup senang.

Dan buktinya? Sekarang kamu tengah duduk manis disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s